Malam 1 Suro Tahun Ini, 5 Kepercayaan Warga Tentang Kirab Kebo Bule

oleh

Nuansaindo.com – Malam 1 Suro 2018 bertepatan dengan tahun baru Islam 1 Muharram atau tahun baru Hijriyah 1440.

Di Malam 1 Suro bagi masyarakat Jawa memiliki beragam ritual yang biasa dilaksanakan, salah satunya yaitu kirab kebo bule yang digelar oleh masyarakat Solo.

Kirab yang dilakukan pada malam 1 Suro tersebut akan memakai 7 kebo bule, memang sudah menjadi tradisi di sana, setiap malam 1 suro selalu diadakan kirab kebo bule yang dilakukan malam harinya.

Ada beberapa kepercayaan yang dipegang warga soal kirab kebo bule ini, selain asal-usulnya dan ada juga kepercayaan bahwa kotorannya saja bertuah dan memberikan berkah.

Berikut 5 kepercayaan soal kirab kebo bule yang diadakan oleh masyarakat Solo di Malam 1 Suro.

1. Asal Usul Kebo Bule Kyai Slamet

Kebo Bule Kyai Slamet menurut Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, Kanjeng Winarno Kusumo, ternyata mempunyai sejarah panjang.

“Nama Kyai Slamet tersebut sebenarnya adalah salah satu nama pusaka berupa tombak milik keraton. Sekitar tahun 1893-1939 pada jaman Pakubuwono ke-10. Warga melakukan tradisi membawa pusaka Kyai Slamet keliling tembok Baluwarti pada hari Selasa dan Jumat Kliwon. Dan waktu itu, kebo bule pun selalu mengikuti di belakang,” kata Kanjeng Winarno.

Winarno menambahkan bahwa tradisi dari Pakubowono 10 tersebut terus dilanjutkan oleh kerabat keraton dan sang kebo selalu mengikuti pusaka Kyai Slamet tersebut.

“Dengan begitu maka lama-lama kerbau tersebut diberi nama Kebo Kyai Slamet,” katanya.

2. Menyentuh Bisa Bawa berkah

Ada kepercayaan yang masih dianut oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Salah satunya, bagi masyarakat yang mengikuti dan bisa menyentuh kebo bule saat kirab maka dipercaya akan mendapatkan berkah.

3. Kotoran Jadi Rebutan

Saat kirab berlangsung, tlethong atau kotoran kerbau bule diyakini sebagian orang dapat melancarkan rezeki. Karena itu, kotoran kerbau bule pun diperebutkan. Warga yang mengambil tletong saat kirab biasa menggunakannya untuk campuran pupuk.

Warga beranggapan, bahwa adanya campuran tlethong Kerbau Bule tersebut akan membuat hasil panennya semakin banyak.

“Mungkin karena hasil panennya yang banyak maka dianggap sebagai pemancar rezeki,” ujar Jumadiono (56), perawat Kerbau bule saat ditemui di kawasan Alun-alun Kidul (Alkid) Keraton Solo.

“Ada yang mengeringkannya dahulu dan membungkusnya dalam sebuah kain untuk disandingkan disamping pupuk yang bertujuan untuk menambah hasil panen, “ungkap dia.

Jumadiono melanjutkan, sebagian besar orang yang masih mempercayai tentang tlethong adalah mereka yang bertempat tinggal di pinggiran Kota Solo.

4. Tergantung Kemauan Kebo Bule

Waktu pelaksanaan upacara untuk memperingati malam 1 Suro selalu dilangsungkan pada tengah malam, namun untuk waktu tepatnya disesuikan dengan kapan kebo bule itu mau keluar dri kandang.

Dan terkadang kebo bule pun baru mau keluar kandang setelah pukul 01.00 dini hari. Kebo bule biasanya akan berjalan keluar sendiri menuju halaman keraton tanpa digiring. Namun jika kebo bule tak mau jalan makan kirab pun belum dilaksanakan.

5. Simbol Penolak Bencana

Kerbau juga ternyata menjadi simbol untuk penolak bencana. Karena dalam tradisi masyarakat Jawa, kerbau mempunyai kepekaan untuk mengusir roh jahat atau niat buruk.

Dan kerbau sebagai hewan bodoh, dan ada ungkapan dalam bahasa Jawa, bodho plonga plongo koyo kebo (bodoh tengak tengok seperti kerbau).

Artikel ini telah tayang di tribunnewsbogor.com dengan judul Malam 1 Suro 2018 – Ini 5 Kepercayaan Soal Kirab Kebo Bule, Kotorannya Diperebutkan Warga.
Penulis: yudhi Maulana
Editor: Ardhi Sanjaya